Selasa, 01 September 2009

Mahasiswa Kreatif

PENCITRAAN kampus sebagai sebuah inkubator --tempat melahirkan mahasiswa intelektual nan kreatif-- berjiwa kewirausahaan (entrepreneurship), masih jarang dijumpai sampai detik ini. Bila jeli menangkap peluang, mahasiswa bisa berbuat untuk mengembangkan keterampilannya (life skills) sembari kuliah. Misalnya, menjadi tenaga kerja part-timer, atau aktivitas bisnis lainnya. Bukan itu saja, dengan menekuni dunia kerja sembari kuliah, bermakna ganda. Memberi keuntungan finansial sekaligus life skills.
Ironisnya, perguruan tinggi (PT), setiap tahun melahirkan sarjana pengangguran; kuantitasnya ribuan orang. Bila dikalkulasi, jumlah pengangguran yang notabene sarjana, dapat mencapai angka ratusan ribu. Ini pun baru diprediksikan, belum ada data penelitian terkini akan hal itu. Wajar kiranya, jika timbul pandangan miring yang menganggap kampus hanya "sarang pengangguran" (intellectual unemployments).
Mental bisnis bagi mahasiswa, akan semakin terasah, kala jeli mengamati hiruk-pikuk kehidupan kampus serta sekitarnya. Di kala sistem penerimaan mahasiswa baru (SPMB); ada banyak bisnis yang dapat dikerjakan. Apalagi masa SPMB bertepatan dengan masa liburan semester. Sehingga, mereka mempunyai banyak waktu melakukan bisnis ini. Mulai dari bisnis kecil-kecilan--menjadi penjual soal SPMB, makelar jasa info kos, menjual keperluan anak kos, menjadi guru privat, dan masih banyak lagi.
Sebenarnya, banyak bisnis yang dapat dimasuki seorang mahasiswa, sambil berkuliah. Mahasiswa yang cukup kreatif, akan lebih memilih berpikir dengan memaksimalkan fungsi otak, guna meraih cita-citanya. Bisa saja, di sela-sela kuliah, mereka meluangkan waktu khusus di perpustakaan --untuk membuat artikel/opini untuk dikirim ke media massa cetak. Hemat penulis, kegiatan ini tidaklah terlalu menguras tenaga --mudah dilakukan semua mahasiswa. Bila artikel termuat media, di samping mendapat honor dari redaksi, penulis masih memperoleh insentif yang ghalibnya dari pihak kampus/rektorat.

Masih asing

Mahasiswa berbisnis, tampaknya masih asing di telinga masyarakat. Termasuk bagi kalangan praktisi pendidikan dan menganggap mahasiswa berbisnis hanyalah menjadi "penghalang" dalam tradisi intelektual di kampus. Pasalnya, selama ini, sosok mahasiswa masih ditransliterasikan secara linier sebagai "siswa senior" yang bertugas belajar di kelas --tidak lebih dan tak kurang. Memang tidaklah salah persepsi tersebut. Hanya saja, ada something lost (sesuatu yang hilang) dalam mereposisikan sosok yang bernama mahasiswa.

Kehidupan mahasiswa, merupakan masa pergulatan batin antara dunia idealitas, obsesi, harapan, dan realitas. Karakteristik mahasiswa yang berjiwa dinamis, kreatif, serta inovatif, menjadi gambaran mahasiswa idaman. Sayangnya, realitas mengatakan lain. Banyak dijumpai, justru para mahasiswa/i menjadi anak manja; selalu menggantungkan hidup dari "kiriman" orang tuanya. Padahal, secara fisiologis-psikologisnya, usia mahasiswa yang lebih dari 18 tahun, seharusnya sudah mampu hidup mandiri --tanpa bergantung pada orang lain.

Memang benar, pengangguran masih menjadi momok menakutkan, bahkan menjadi masalah nasional. Tingginya aksi kriminalitas, merebaknya prostitusi, kasus TKI ilegal dan semacamnya, bisa jadi merupakan akumulasi letupan akibat dari banyaknya pengangguran di tanah air. Terasa aneh rasanya, kalau ada mahasiswa sebagai sosok intelektuaL, tak mampu mengatasi masalah pengangguran, justru menjadi bagian dari pengangguran itu sendiri.

Tercatat para jutawan, sebut saja Purdi E. Chandra, memulai bisnisnya ketika berstatus mahasiswa. Fenomena yang terjadi saat ini, para mahasiswa hanya menjadi penikmat; berpenampilan perlente, hidup berfoya-foya ala hipies. Dapat dipastikan, bila budaya ini tetap digandrungi mahasiswa niscaya pengangguran nasional melonjak drastis. Penciptaan mahasiswa yang kreatif, inovatif, berjiwa entrepreneur, membutuhkan kesadaran bersama, baik dari dosen, rektor, birokrat pendidikan, mahasiwa, swasta, dan masyarakat sendiri.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar